Mengenal Finishing Untuk Menambah Estetika Bangunan

Published: 5 January 2023
Author:
Daftar Isi

Selain pondasi, pemilihan bahan bangunan dan finishing adalah proses yang bisa meningkatkan sisi estetika bangunan. Finishing adalah proses pengerjaan terakhir dalam pembangunan sebuah hunian atau bangunan. Ini merupakan bagian yang cukup diperhatikan oleh pemilik rumah.

Proses tersebut membutuhkan strategi dan kreativitas, sehingga mendapatkan hasil bagus dan memukau. Selanjutnya, akan membahas bagaimana cara supaya tampilan finishing terlihat menakjubkan? Bagaimana urutan yang benar? Bahan apa saja yang cocok? Simak selengkapnya di bawah ini.

Apa Itu Finishing

Tahap akhir atau finishing adalah proses menyempurnakan sebuah karya atau pembuatan bangunan dengan cara melapisinya menggunakan bahan material. Ketahanannya harus mencakup ketahanan terhadap goresan, ketahanan terhadap cuaca, ketahanan terhadap bahan kimia, dan ketahanan terhadap jamur dan serangga.

Setelah melakukan proses finishing pasti kita menemukan berbagai kesan yang berbeda. Hal tersebut disebabkan oleh pengerjaan dan keinginan dari pemilik tentang hasil akhir yang ia inginkan.

Terdapatan 3 aksesoris yang dapat menjadi dekorasi rumah.
Apa itu Finishing © Unsplash.com

Fungsi Finishing

Fungsi utama finishing adalah membuat tampilan rumah menjadi estetik dan sekaligus memberikan ketahanan terhadap faktor eksternal. Berikut ini merupakan penjelasan lengkap mengenai fungsinya :

1. Menambah Nilai Estetik

Fungsi finishing adalah mempercantik tampilan interior maupun eksterior rumah. Jika menginginkan hasil bagus maka teknik yang digunakan juga bagus. Biasanya rumah minimalis di Indonesia memilih hasil akhiran matte supaya terlihat elegan dan memberikan kesan mewah.

2. Memberikan Perlindungan Tambahan Terhadap Bangunan

Meskipun bukan perlindungan utama terhadap bangunan, namun jika perlakuan finishing secara rapi dan maksimal maka dapat mengurangi kerusakan dari faktor eksternal.

Daerah beriklim tropis biasanya memiliki finishing dengan menekankan pada ketahanan dari cuaca, jamur, dan serangga. Pemilik rumah biasanya menggunakan cat pelapis untuk menghindari kelembaban pada dinding rumah.

3. Meningkatkan Nilai Jual Terhadap Bangunan

Fungsi finishing adalah memberikan impresi yang mengesankan jika bahan material dan pengerjaanya bagus. Dengan proses ini maka nilai jual rumah dapat meningkat.

Baca Juga:
8 Jenis Material Dinding Rumah dan Berbagai Finishingnya
Mengenal 5 Elemen Struktur Bangunan, Tips & Pertimbangan Pembuatannya yang Efektif

Bahan Finishing Bangunan

Hasil akhir dari proses ini tergantung pada bahan yang dipakai. Berikut merupakan beberapa bahan yang dapat Anda jadikan referensi untuk tahap akhir bangunan Anda:

1. Finishing PU (Polyurethane)

Polyurethane untuk bahan finishing mengkilat
Polyurethane © Acrpanel.com

PU (polyurethane) adalah bahan dengan tampilan efek mengkilat saat pengaplikasiannya. Bahan ini adalah pencampuran dari isocyanate dan polyol.

Keunggulan material ini antara lain tahan terhadap bahan kimia, tahap terhadap gesekan dan pukulan. Bahan ini sesuai dengan kriteria ketahanan dari faktor luar.

Di samping itu polyurethane memiliki kemampuan untuk meredam suara karena dimensinya tebal. Cocok untuk pelapis tembok bagi pemilik rumah yang kurang suka dengan keramaian di luar.

2. Finishing Melamin

melamin bahan finishing
Melamin © Unsplash.com

Melamin adalah salah satu jenis cat yang banyak digunakan oleh para tukang atau pengrajin untuk melapisi material kayu. Melamin menghasilkan efek glossy setelah diaplikasikan.

Material ini memiliki tingkat sheen level sekitar 90% dan transparansi baik. Sayangnya, melanin tidak mampu untuk terpapar sinar matahari terlalu lama. Sehingga dinding akan berubah warna menjadi kekuningan karena kadar formalinnya rusak oleh paparan sinar matahari.

Biasanya tukang akan menggunakannya untuk bagian ruangan tidak terpapar oleh sinar matahari contohnya adalah dapur dan ruang tamu.

3. Finishing Akrilik

hasil finishing menggunakan acrylic
Akrilik © Unsplash.com

Akrilik adalah pilihan tepat untuk memberikan kesan akhir mengkilap serta berbahan plastik polimer transparan berupa lembaran yang cocok untuk finishing. Kelebihannya yaitu dapat menahan panas dengan baik dan kemampuan struktural lebih kuat daripada kaca.

Akrilik diaplikasikan pada dapur rumah. Biasanya tukang akan memasang akrilik pada lemari dan meja dapur. Hasil akhir yang di dapat adalah glossy dan terkesan mewah.

Ada juga konsep penggunaan akrilik pada area ruang tamu atau ruang keluarga. Tak jarang beberapa kantor menggunakan lapisan ini pada area depan kantor.

Namun, kekurangan akrilik adalah bahan ini tidak tahan terhadap goresan, mudah lecet dan buram. Jadi, jika Anda tetap menggunakan akrilik maka rawatlah secara berkala.

4. Finishing HPL (High Pressure Laminate)

Hasil finishing HPL
HPL © Unsplash.com

HPL sekilas hampir sama dengan akrilik, namun pengerjaannya yaitu dengan menempelkan lembaran laminasi di atas furniture atau perabotan dan di-press menggunakan mesin bertekanan tinggi. Terdapat banyak motif mulai dari warna solid, pola, metalik, dan warna bebatuan yang bisa Anda pilih sebagai model finishing.

Pengerjaan ini lumayan cepat dan tidak menguras tenaga. HPL juga tahan terhadap air serta jamur. Namun, kekurangannya adalah tidak mudah dibentuk dan meninggalkan bekas hitam di pertemuan tepi laminasi.

5. Finishing Cat Duco

Dalam dunia konstruksi, pasti tidak asing dengan cat duco. Dari zaman dahulu, cat ini telah dipercaya untuk membuat tampilan pada rumah atau perabotan. Jenis ini berbentuk cair dan tersedia dalam warna yang beragam.

Kelebihan cat duco adalah pengaplikasiannya yang mudah, hasil yang didapat bisa doff atau glossy tergantung selera pemilik rumah. Sayangnya cat duco tidak tahan goresan sehingga perlu adanya pemeliharaan secara berkala agar menjaga warna tetap bersih dan bagus.

6. Finishing Decosheet

Decosheet berbentuk seperti lembaran sehingga pengaplikasiannya dengan cara ditempel ke atas suatu objek atau benda. Bentuknya seperti lembaran tipis dengan ukuran yang berbeda-beda. Dengan harga yang relatif murah, decosheet merupakan pilihan yang tepat karena memiliki corak dan motif menarik. Bahan ini tidak memiliki ketahanan lama

7. Finishing Lacquer

Sedikit satu level di atas cat duco, lacquer adalah cat coating diaplikasikan dengan cara di semprotkan ke objek atau benda. Cat ini mampu menutupi serat benda sehingga terlihat lebih halus. Lacquer adalah pelapis anti kayu yang berbentuk cair berfungsi sebagai pelapis material.

Di pasaran biasanya mudah ditemukan dalam bentuk cair. Dalam segi ketahanan, bahan ini tahan terhadap gores, lebih kuat, serta tidak mudah pudar. Pengerjaannya pun harus dilakukan dengan hati-hati.

8. Finishing Veneer

Veneer adalah salah satu jenis bahan berbentuk lembaran panjang dengan ketebalan 0,24 mm hingga 3 mm. Material ini kerap menjadi sebuah pilihan material finishing untuk dinding atau lantai. Untuk mendapatkan hasil maksimal maka pemasangannya harus benar-benar rapi.

Daya rekat yang kuat, material ini tidak mudah lepas jika terkena air. Beberapa lantai yang tidak rata bisa ditangani dengan cara melapisinya dengan veneer sehingga hasil akhirnya bagus. Perawatannya cukup mudah dengan cara memberikan coating tambahan dan cat anti rayap untuk menghindari kerusakan.

9. Finishing Keramik

material keramik yang berwarna warni.
Keramik © Unsplash.com

Keramik adalah material umum pelapis bangunan. Penggunaan keramik lebih banyak pada area kamar mandi dan bagian interior depan. Kamar mandi yang cenderung lembab akan lebih cocok pada finishing keramik karena sifatnya tidak menyerap air. Keramik juga mudah dibersihkan dari. Permukaannya yang mengkilat membuat visual yang tampil terlihat elegan.

Saat ini, model keramik ada berbagai macam. Pilihlah keramik yang sesuai dengan konsep bangunan karena dengan pemilihan material yang tepat maka konsep rumah terlihat kuat.

Baca Juga: 10+ Inspirasi Warna Keramik Lantai Teras yang Bagus, Simak!

10. Unfinished/Exposed Material

Dinding yang di finishing dengan teknik exposed material.
Exposed Material © Unsplash.com

Zaman sekarang, banyak orang yang menggunakan teknik exposed material. Teknik ini lebih berani menunjukkan sisi “raw” dari sebuah interior. Biasanya pemilik rumah dengan konsep industrial dan monokrom menggunakan jenis ini untuk membuat tampilan terlihat natural.

Exposed material sebagian besar diaplikasikan pada dinding interior maupun eksterior ruangan. Bahan material ini biasanya adalah batu bata atau kayu.

11. Finishing Batu Alam

Tahap finishing dari  batu alam.
Batuan Alam © Unsplash.com

Batu alam adalah contoh finishing dinding dengan mengedepankan konsep natural. Warna dan pola batuan alam yang beragam mampu membuat tampilan memukau dan terkesan mewah. Batuan alam memiliki karakteristik yang kokoh serta tahan lama.

Batu alam yang paling dicari adalah batu granit, andesit dan sabak. Bahan ini diterapkan pada bagian interior maupun eksterior ruangan dengan perawatannya cenderung mudah,

12. Finishing Wallpaper

Tahap finishing dengan menempel wall paper.
Wall paper © Unsplash.com

Zaman sekarang wallpaper dengan berbagai motif mudah didapatkan di pasaran. Wallpaper adalah solusi praktis ketika Anda ingin mendapatkan tampilan visual dinding yang menarik tanpa mengeluarkan budget yang berlebih.

Wallpaper memiliki ketebalan berbeda tergantung harga yang dibanderol. Contoh wallpaper yang paling banyak digunakan adalah motif kayu, gradasi serta motif klasik.

Tipe Finishing

Hasil dari proses finishing selalu memberikan kesan berbeda berdasarkan warna, tingkat kekilauan, dan pori-pori.

1. Berdasarkan Warna

Cara pengaplikasian material dan pilihan warna akan menentukan keestetikaan suatu objek suatu benda. Warna-warna yang banyak dipakai pada proses ini adalah warna solid dan natural.

Warna solid berarti warna yang terdiri dari satu unsur, visual ini tampak lebih bold. Tipe ini banyak diaplikasikan pada rumah atau bangunan di Indonesia.

Selanjutnya adalah tipe natural. Dari namanya saja kita mengetahui jika warna tersebut adalah warna cokelat, hijau, dan putih. Warna-warna tersebut tidak terlihat tegas, namun sangat bagus dipadupadankan dengan konsep rumah yang membutuhkan sentuhan segar.

2. Berdasarkan Kilau

Tingkat kekilapan setiap jenis material finishing berbeda-beda tergantung kualitas bahan itu sendiri. Pemilihan top coat akan menentukan hasil akhirnya. Hasil akhir yang didapatkan dari proses ini antara lain glossy, matte, semi matte, doff, dan mirroring.

3. Berdasarkan Pori-Pori

Pori-pori suatu benda atau objek bisa terlihat besar atau kecil tergantung pada cara finishingnya, jika dilakukan dengan tepat maka akan menghasilkan hasil yang halus dan rapi.

Urutan Tahapan Finishing

Setelah Anda memahami karakteristik material, maka Anda perlu memahami tahapannya secara garis besar meliputi finishing kering dan basah.

Finishing basah meliputi proses pengerjaan menggunakan cat. Cara ini berhubungan dengan material bahan cair yaitu proses pengecatan atau pelapisan permukaan objek atau benda.

Finishing kering pada pengerjaannya tidak ada hubungannya dengan bahan cair, sehingga cukup dengan menempelnya dengan rapi. Contohnya adalah pemasangan wallpaper, vinyl, atau veneer kayu. Berikut adalah cara untuk melakukannya dengan baik dan benar.

1. Bersihkan Dinding atau Elemen Bangunan

Pastikan dahulu dinding melalui tahap ini bersih dari kotoran dan benda-benda pengganggu lainnya. Benda-benda tersebut antara lain adalah lukisan, aksesoris interior dan sebagainya. Hal ini dilakukan supaya proses pengecatan lebih leluasa dan optimal

2. Tutup Stop Kontak dengan Selotip

Jika ada stop kontak yang terbuka, maka tutup terlebih dahulu supaya lelehan cat tidak masuk ke dalam stop kontak.

3. Cek Kondisi Dinding

Finishing dilakukan karena kondisi dinding yang buruk dan kurang pemeliharaan. Jika dinding masih basah maka keringkan terlebih dahulu menggunakan cairan TSP. Cairan TSP akan membuat dinding menjadi kering dengan cara mengikat air di dalamnya.

Jika tembok mengalami pengapuran, maka langkah tepat adalah dengan melakukan pengamplasan secara menyeluruh. Setelah itu, tunggu sampai tembok kering.

Sedangkan jika tembok memiliki bekas paku, maka tambal dengan adukan semen yang telah dibuat ke dalam lubang tersebut. Lakukan dengan rapi supaya proses finishing berjalan dengan baik.

4. Lindungi Tepi Sisi Dinding

Tepi sisi dinding juga perlu adanya perhatian. Lindungi tepi sisi dinding dengan cara memberikan batasan menggunakan selotip karena jika tidak, dikhawatirkan cat akan merembet dan mengotori tembok di sebelahnya.

5. Gunakan Warna Dasar Putih Sebelum Melakukan Finishing

Poin pentingnya adalah jangan melewatkan pelapisan dinding menggunakan cat dengan warna dasar putih. Hal ini akan memberikan visual terbaik pada tahap akhir pengecatan karena warna utama akan terlihat terang, solid dan tidak buram.

Kesimpulan

Tahap akhir atau finishing adalah proses penyempurnaan bangunan dengan cara melapisinya menggunakan bahan material. Ketahanan proses ini mencakup pada ketahanan terhadap goresan, ketahanan terhadap cuaca, ketahanan terhadap bahan kimia, dan ketahanan terhadap jamur dan serangga.

Ada banyak pilihan bahan finishing sesuaikan dengan kebutuhan rumah Anda. Bagus tidaknya proses ini ditentukan oleh pemilihan warna, tingkat kilau, dan permukaannya. Beberapa urutan pengerjaannya secara garis besar harus diperhatikan supaya tampilan visual dinding memukau.

Artikel di atas dapat Anda aplikasikan pada bangunan terutama bangunan dengan material asbes rata milik Adimas yang memiliki kualitas tinggi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan menggunakan produk Adimas, menjadikan bangunan Anda kokoh dan tahan lama.

Rekomendasi Artikel Terkait